Langsung ke konten utama

Postingan

Seperti Itu Saja

untuk yang memilih pergi:
tidak ada surat perpisahan apalagi pesan berisi kesedihan atau ceracau bagaimana bila aku kesepian. aku terlalu lelah menopang air mata dan terlalu sibuk memikirkan jawaban atas pertanyaan mama-papa jika nanti bertanya kau ke mana.
tidak perlu bertanya mengapa aku tak menggores sedikit pun tanda. mungkin sudah masanya kenangan tidak ingin lagi ikut serta pada patah yang beranjak dewasa.
kuanggap kau hujan saja setelahnya. karena seperti kita, basah juga tak selamanya.



Bandung, 27 Maret 2017
Postingan terbaru

Ingin Kutanggalkan

patah hati dan melankoli di saku celana sambil mengangkat kaleng bir lalu mendentingkannya entah dengan gelas siapa. dan kamu tak boleh bertanya malam ini aku ke mana saja, atau meriuhkan ponselku dengan telepon-telepon kecemasan yang pura-pura. aku hanya butuh melantahkan spasi dan memuntahkan emosi sebab paru-paru sudah kepenuhan isak hingga tak mampu lagi meninabobokan nyeri. esok pagi kepala ringanku akan kembali dan akan kusuruh mencuci perabotan-perabotan nista, termasuk celana yang kupakai malam ini tanpa merogoh sakunya untuk menyelamatkan kenangan apa saja. lalu kau alpa selamanya dan aku bisa menjadi lebih reda.

bandung, 20 maret 2018

Sisanya Terserah Kau

di sebelahku duduk hari selasa, setelah senin terlewatkan begitu saja tanpa ada cerita. hujan tak hentinya turun membuat kesedihan tumbuh sebanyak jamur pada dinding-dinding yang lembab. aksaraku kebasahan menyusun rindunya sendiri sebab tak lagi dapat tertampung. selokan-selokan penuh oleh sampah kepala yang tak tertuang, comberan penuh dengan sisa-sisa patah hati kemarin malam.
ingin kularungkan durjaku sekarang juga sore itu namun kau bermuka masam, dan lagi kita sudah berjanji untuk saling menguatkan, bukannya membagi kata-kata kesedihan. tetapi kini aku tak mampu lagi menerjemahkan rindu sebab ia selalu tertahan lantaran cuacamu selalu dipenuhi petir dan kilat petanda hujan.
lantas aku menjelma bayangan yang tak terbayang saja, di matamu. sembari mencoba melentikkan jemari untuk membuat prosa dan menyisipkan rindu di dalamnya, namun kau terlalu lelah membacanya. kuharap hari ini hujan turun lagi lebih deras dari biasanya, biar kutitipkan saja padanya, walau tak akan sampai karen…

Apakah Kau Sudah Mati?

aku menanak kesumat dalam kepalaku: warnanya seperti lebam yang dibiarkan lama tanpa perawatan, dan hatiku sakit bukan main dari hari ke hari. pandanganku lindap sebab air mata yang tak henti merembah lewat comberan sambil menulis daftar panjang dosa-dosamu seperti malaikat atid dan tak hendak sekata pun menghapusnya.
aku ingin menanyakan kabarmu melalui himpunan kebencian dan amarah yang telah lama kurawat dalam kepala dan hatiku, “apakah kau sudah mati?” lepas aku mengoyak tubuh kurusmu dengan belati berkali-kali sampai kamu meminta mati, aku akan melakukannya sendiri sampai kulihat mata jirihmu memelas agar kuberhenti.
malam ini aku akan jadi malik, yang bersiap menendangmu ke neraka. izroilmu telah datang, bersiaplah!


bandung, 19 maret 2018

Memo di Perigi Ingatanmu

: untuk lelaki yang kehilangan dirinya sendiri


“... ada cerita dari ingatanmu yang terbuka. Membeberkan rahasia, bahwa lukamu, masih lebih merah dari senja yang kali ini kita lihat bersama.” Kulihat duniamu dari sepasang mata lelah kemerahan yang tampak kurang tidur. Kubaca dari kelopakmu yang menyembul, seolah dunia nyata masih lebih asyik dari mimpimu, atau entahlah. Aku kerap lemah dalam membaca tanda, sebab ia tak pernah berupa aksara. Kudengar lirih suaramu seperti kedinginan sejak lama. Atau mungkin di kotamu, hujan satu-satunya musim yang bisa kaukenali, atau bisa saja ia sengaja menjelma sebagai air keran di matamu. Kuterjemahkan risau yang lain, seperti gemeritih minyak dalam sebuah kuali yang digunakan ibu untuk menggoreng ayam, jantungmu meletup-meletup seperti hendak menembakkan kesah, yang tertahan—yang melahirkan warna yang lebih pasi dari sehelai roti tawar, di wajahmu. Padahal aku merindukan matamu yang berbinar kala kuperlihatkan dunia yang sudah lama tak dijajah matamu. T…

Review Novel #Sejoli

It’s funny how we always there for each other, but never be a lover.” ~ Wangi Mutiara Susilo
Salah satu dari sekian baaaaaanyak quote yang saya suka banget dari novel ini. Bagaimana tidak, saya sampai membacanya dua kali! Bukan, bukan karena bahasanya yang sulit atau ceritanya yang ke­-science-science-an. Malahan saya suka cara penuturan penulis di sini. Asik sekali. Mengalir. Nggak butuh waktu yang cukup lama untuk mencerna. Hanya, butuh waktu yang amaaaat lama untuk menata hati ketika cerita yang “damn! Gue banget, sih.” Ini mendadak memutar cerita yang sama di kehidupan pembaca, khususnya saya. Singkatnya, Sejoli ini bercerita tentang friendzone. KHAKH! Setiap orang pasti pernah mengalami kisah cinta model begini. Entah siapa founding father-nya, tahu-tahu, istilah ini mendadak hits banget untuk dua orang lawan jenis yang selalu bareng, connect each other tanpa perlu banyak effort buat membangun chemistry, tapi nggak bisa satu hati, for some reasons. Hayooo. Ngaku, deh. Kalian pa…

Anantara

kepada Kheir Khalifani Prayata juga Shair Ramaniya Kamini yang tidak pernah menyakiti orang lain
beribu decak berlari menuju gunung paling gunung
dihampar sebuah sajadah asa di antara kerikil tajam yang tak mau kalah dijumputnya secuil dalam tangkup telapak genggam
dikirimkannya pada pendengaran maha gusti
kelakarnya tak putus
tiada banyak
bahkan terbagi seujung kuku
pula mesti luntur tersiram limbah mata
"berilah ruang dan waktu yang tak begitu gesit pula keong. hilirkanlah riang pada kepala-kepala. biar susah tak jadi masalah. biar bakti tiada melahirkan kesah."
membumilah, nak, meski jemari-jemarimu telah mampu menundukkan arundrati. sebab setinggi-tinggi layar angkasa, tiada yang lebih agung tinimbang tempat bersemayamnya hati.


pondok gede, 12 november 2014