Senin, 04 Mei 2015

Memo di Perigi Ingatanmu

: untuk lelaki yang kehilangan dirinya sendiri


“... ada cerita dari ingatanmu yang terbuka. Membeberkan rahasia, bahwa lukamu, masih lebih merah dari senja yang kali ini kita lihat bersama.”
Kulihat duniamu dari sepasang mata lelah kemerahan yang tampak kurang tidur. Kubaca dari kelopakmu yang menyembul, seolah dunia nyata masih lebih asyik dari mimpimu, atau entahlah. Aku kerap lemah dalam membaca tanda, sebab ia tak pernah berupa aksara.
Kudengar lirih suaramu seperti kedinginan sejak lama. Atau mungkin di kotamu, hujan satu-satunya musim yang bisa kaukenali, atau bisa saja ia sengaja menjelma sebagai air keran di matamu.
Kuterjemahkan risau yang lain, seperti gemeritih minyak dalam sebuah kuali yang digunakan ibu untuk menggoreng ayam, jantungmu meletup-meletup seperti hendak menembakkan kesah, yang tertahan—yang melahirkan warna yang lebih pasi dari sehelai roti tawar, di wajahmu.
Padahal aku merindukan matamu yang berbinar kala kuperlihatkan dunia yang sudah lama tak dijajah matamu. Tetapi kau serupa mentega yang bersembunyi di sudut mesin pendingin, takut, sebab di hatimu pernah terjadi pencurian harapan besar-besaran. Sehingga kesedihan tetap membeku, serupa hatimu yang acap kaku.
Mungkin benar kata penyair itu:
“kesakitan adalah dataran asing yang kaujelajahi,  sendiri. Sedang ia, seharusnya tak lebih dari anak-anak kecil yang rewel dan manja, sementara kita bertambah tabah oleh usia.”*

Semakin gelap di luar, sadarkah kau? Lalu kali ini, mana yang lebih gelap; hatimu, atau cuaca di seitar kita?


*Agus Noor
Jatibening, 03 Mei 2015

Sabtu, 10 Januari 2015

Review Novel #Sejoli

It’s funny how we always there for each other, but never be a lover.” ~ Wangi Mutiara Susilo

Salah satu dari sekian baaaaaanyak quote yang saya suka banget dari novel ini. Bagaimana tidak, saya sampai membacanya dua kali! Bukan, bukan karena bahasanya yang sulit atau ceritanya yang ke­-science-science-an. Malahan saya suka cara penuturan penulis di sini. Asik sekali. Mengalir. Nggak butuh waktu yang cukup lama untuk mencerna. Hanya, butuh waktu yang amaaaat lama untuk menata hati ketika cerita yang “damn! Gue banget, sih.” Ini mendadak memutar cerita yang sama di kehidupan pembaca, khususnya saya.
Singkatnya, Sejoli ini bercerita tentang friendzone. KHAKH! Setiap orang pasti pernah mengalami kisah cinta model begini. Entah siapa founding father-nya, tahu-tahu, istilah ini mendadak hits banget untuk dua orang lawan jenis yang selalu bareng, connect each other tanpa perlu banyak effort buat membangun chemistry, tapi nggak bisa satu hati, for some reasons.
Hayooo. Ngaku, deh. Kalian pasti pernah begini juga, kan? Don’t worry, you’re not alone, dude. Been there, even undone that *oke ini curhat terselubung* *padahal daritadi curhat*.
Ceritanya soal persahabatan Rayya dan Kenya yang sudah berjalan 3 tahun, saling click, ke mana-mana barengan, spent almost their time together, tapi statusnya Cuma sahabat. Walau keduanya sebetulnya saling menyimpan rasa satu sama lain, tapi karena beberapa alasan, salah satunya nggak bisa melajutkan hubungan yang kelewat ngeklik itu ke jenjang yang lebih serius, atau minimal punya legitimasi, such as “pacaran”.
Nyiksa nggak, sih? Banget! Saling mengisi tapi nggak bisa selamanya satu sisi. Rayya yang selalu berhasil bikin Kenya happy, pun sebaliknya, hanya karena takut bahwa kehilangan dimiliki setiap hubungan dan jika perasaan sudah teramat dalam, malah akan menghacurkan semuanya malah justru menghancurkan semuanya karena ketakutan itu sendiri.
Saya rasa penulis hendak menyiratkan satu pesan penting bahwa, “bukan hanah-heneh yang bisa menghancurkan sesuatu, melainkan ketakutan akan hanah-heneh yang mungkin akan terjadi sebab itu biasanya hanya ada dalam kepala kita.” Well-noted!
Meskipun pada akhirnya mereka tetap berpisah dan Kenya harus kehilangan Rayya (tidak hanya sebagai orang yang dia cinta, namun juga sebagai sahabat), pun Rayya yang sangat kecewa dengan keputusan Kenya, but life's goes on. Butuh waktu yang cukup lama untuk Rayya bisa move dari Kenya. Lewat Bayu yang terlampau garing, yang Rayya jalani dengan setengah hati, sampai Moreno, the-small-sized-coffee-guy.
Ya! Life goes on. Suka sekali bagian di mana Rayya melanjutkan hidupnya setelah nggak lagi barengan sama Kenya. Keluar dari zona nyaman, mulai semuanya tanpa orang yang bikin nyaman, masih melakukan hal-hal yang selama tiga tahun jadi kebiasaan mereka. Rayya is that strong!
Meskipun penulis menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi mudah sekali memahami cerita ini karena dibuat nggak Cuma dari sisi Rayya, namun juga Kenya. Jadipembaca bisa tahu dari kedua sisi, apa yang sebetulnya masing-masing rasakan. Hanya saja memang jadi sedikit kurang letupan. Tapi, hellaawwww, ini bukan fiksimini! *digetok*
Fakta bahwa Rayya hobi makan, ceria, random, ngegemesin, dkkllsbst ini mirip sama saya. *kepedean*. Tapi serius, saya hobi makan, itulah alasan dari gembungnya pipi ssaya. Dan, Kenya yang  tukang tidur, suka ngelawak garing, random yang asik, seru, dkkllsbst ini juga mirip dengan Kenya-nya saya (saya memanggilnya “Alien”, dan dia memanggil saya “Pipi”, sama seperti panggilan Kenya ke Rayya) ini menjadi nilai istimewa untuk saya.
Dengan gujlak-gajluk hubungan Rayya-Kenya setelah mereka pisah, pada akhirnya mereka kembali, meski sebagai teman. Well, mungkin memang nggak harus musuhan, atau act like nggak-pernah-kenal-sebelumnya . karena, pada akhirnya Rayya menyadari bahwa soulmate itu nggak melulu berbentuk cinta. Nggak harus.
“Nggak semua orang ngerti konsep jodoh. Soul mates. Aku mengerti. Buatku, semua orang bisa berjodoh dengan satu sama lain. Yang membedakan jodoh yang satu dan yang lainnya adalah dalam bentuk hubungan apa dan berapa lama bisa berjodoh. Mungkin beberapa orang bisa berjodoh menjadi sebatas teman dan hanya untuk waktu yang sebentar, mungkin ada pula yang berjodoh sebagai pacar dan dalam kurun waktu yang lama,” Rayya dalam kepalanya. (hal. 128)
Dan nggak harus terburu-buru dalam hidup. Karena saat kamu terlambat, akan ada bus berikutnya yang lewat. Seperti Rayya yang akhirnya merelakan Kenya, lalu menemukan Moreno. Make it that simple. And... Enjoy your life, with or without someone you loved beside. Bahagia kan kita yang buat sendiri.
I give 4 of 5 to this book! Come on grab it fast on the nearest bookstores!


Keterangan Buku:
Judul                                     : Sejoli
Penulis                                 : Wangi Mutiara Susilo (@WangiMS)
 Penata letak                      : Diandra Novitasari
Desain sampul                   : Diandra Novitasari dan M. Fadli
Penerbit                              : Sekata Media
Tahun terbit                       : 2014 (cetakan pertama)
Tebal                                     : 188 halaman
ISBN                                      : 978-602-71655-4-0

Rabu, 12 November 2014

Anantara

kepada Kheir Khalifani Prayata juga Shair Ramaniya Kamini yang tidak pernah menyakiti orang lain

beribu decak berlari menuju gunung paling gunung
dihampar sebuah sajadah asa di antara kerikil tajam yang tak mau kalah
dijumputnya secuil dalam tangkup telapak genggam
dikirimkannya pada pendengaran maha gusti

kelakarnya tak putus
tiada banyak
bahkan terbagi seujung kuku
pula mesti luntur tersiram limbah mata

"berilah ruang dan waktu yang tak begitu gesit pula keong. hilirkanlah riang pada kepala-kepala. biar susah tak jadi masalah. biar bakti tiada melahirkan kesah."

membumilah, nak, meski jemari-jemarimu telah mampu menundukkan arundrati. sebab setinggi-tinggi layar angkasa, tiada yang lebih agung tinimbang tempat bersemayamnya hati.



pondok gede, 12 november 2014

Kamis, 03 Juli 2014

Origami Rasa

: Muhammad Ridho Pratama

ada banyak warna ‘tuk menoreh putihku
tapi kau pilih hitam yang lebih dulu kukenal

ada banyak rupa biar bentukku nyata
tapi kau meremasnya hingga hancur tak bermakna

                “butuh berapa lipatan lagi bagimu agar bentukku menjadi sempurna seperti yang kau inginkan? atau inikah caramu mengoyakku begitu rupa, hingga hilang bentuk, lalu kacau begitu saja?”

origami rasa...

kau buatku tak berdaya
tiap lipatan membentuk rona kamu

hingga ‘ku tersadar, kini kau telah tiada
temani aku merangkai lembar waktu



Bekasi, 29 April 2014

Selasa, 03 Juni 2014

Perigi Kelewat Pagi

seorang gadis ditelan air matanya sendiri saat jarum jam menunjukkan waktu yang entah kelewat malam atau malah terlalu pagi.

di matanya, rentetan kata puisi cinta penyair ternama hilang-timbul tak berbentuk padahal ia memakai kacamata.

di kepalanya, ada cerita tentang kayu yang bercumbu dengan tungku; sepasang yang saling berpeluk padahal tak pernah kedinginan.

di harapannya, dia-lah api yang mampu menghabiskan kayu jadi abu. sayangnya, ia justru menjelma cinta yang membuat tungku dan kayu jadi berguna.

di pinggir terjaganya ia membuka payung hening, rendah sekali sampai tak terlihat apa pun di pandangannya yang sudah buram.

sesuatu mampir di dadanya. begitu perih, begitu ngilu.

hujan turun malam-malam, tapi perapian aman. hanya gadis itu yang tenggelam, hanyut oleh bala kesedihan tak kenal musim.



Jatibening, 03 Juni 2014.

Sabtu, 23 November 2013

Bukan Sebuah Headline

aku baca koran pagi ini; berita pembunuhan, perceraian, penangkaplan seorang mafia, sampai orang hilang tercetak dengan tinta hitam dan huruf kapital besar-besar di halaman depan.

pada berita pembunuhan, aku bertanya-tanya, bagaimanakah perasaan dekat korban ketika orang yang disayang pergi jauh ke tempat yang tak terengkuh, upaya apa yang harus dilakukan untuk menggenapi rindu selain menyusulnya ke kubur yang gelap?

kemudian kubaca berita perceraian artis ibukota. akibat ketidakcocokan di antara mereka, kedua putranya yang masih cilik-cilik harus menghujani pipi mereka setiap saat demi menghabiskan waktu dengan orang tuanya.

lalu di tempat lain, seorang mafia yang kedapatan melakukan penipuan uang ratusan milyar dibekuk di rumah istri keduanya dengan barang bukti sabu bergram-gram. aku membayangkan, keluarganya di rumah pasti sedang menantinya pulang untuk makan malam bersama sembari berkelakar mengenai hari yang masing-masing lalui.

di halaman berikutnya, seorang kakek tua dikabarkan hilang. terakhir kali memakai polo shirt motif stripes warna dasar abu-abu dengan kombinasi warna biru muda. anak cucunya pasti mengkhawatirkan tubuh ringkihnya yang begitu senja untuk berjalan sendirian di belantara kejam kota.

pada saat yang sama, kubaca kabar hatiku. mungkin belum setaraf berita pembunuhan, bahkan perceraian artis yang sedang naik daun itu. pula tak ada kaitannya dengan penangkapan bos mafia di rumah istri keduanya. tetapi, sama seperti kakek itu, ada yang hilang berhari-hari sudah. yang tak perlu menjadi headline berita, tetapi menyita semesta perhatianku dari segala jenis laporan kriminal yang pernah kubaca.

ada yang hilang dan berjanji tak akan kembali. sebab baginya, aku bukan rumah untuk berpulang setelah bepergian jauh membuat tubuh perlu diistirahatkan.

ada yang hilang, dan perasaan rinduku ini, sama seperti keluarga korban, dua putra artis ibu kota, juga anak cucu si kakek renta; ditinggalkan.


pondok gede, 05 november 2013.

Delusi

... tapi tak hanya pada mimpi. setiap kali saya mendengarkan lagu yang beraroma kita, saya merasa kau ada. mungkin delusi saya terlalu pulas. sebab saya tahu, kau sedang begitu nyaman dengan pelukan si pirang. sungguh, bukan hal mudah menerima kenyataan itu. meski beberapa kali khayalan saya merah-merah ditamparnya agar bangun untuk melihat dunia yang sebenarnya.

tapi, dunia yang tidak saya inginkan itu terlalu pahit. maka, biarkan saya mimpi sekali lagi, sampai tak ada lagi tempat bagi lebam menumpang sakit.


pondok gede, 23 november 2013